Kamis, 14 Juli 2011

ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN



ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN

A.  Definisi Ilmu
Ilmu atau "sains" adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natural atau sosial yang berlaku umum dan sistematik. Karena ilmu berlaku umum. maka darinya dapat disimpulkan pernyataan-pernyataan yang didasarkan pada beberapa kaidah umum pula. Ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.

1.    Ilmu dan Proses Berpikir
Dua buah definisi dari ilmu adalah sebagai berikut:
"Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum."
"Ilmu ialah pengetahuan yang sudah dicoba dan diatur menurut urutan dan arti serta menyeluruh dan sistematik."
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan seseorang terhadap permasalahan di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Misalnya, dari pertanyaan apakah bulan mengelilingi bumi, apakah matahari mengelilingi bumi, timbul keinginan untuk mengadakan pengamatan secara sistematik, yang akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa bulan mengelilingi matahari dan bumi juga mengelilingi matahari. Juga bidang ilmu-ilmu kesehatan, keingintahuan tentang masalah-masalah kesehatan telah membuat orang mengadakan pengamatan-pengamatan secara sistematik terhadap fenomena-fenomena kesehatan seperti Sosiologi kesehatan, Antropologi kesehatan, dan sebagainya.
Menurut Maranon (1953), ilmu mencakup lapangan yang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang progres manusia secara menyeluruh. Termasuk di dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematik melalui pengamatan dan percobaan yang terus-menerus, yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Tan (1954) berpendapat bahwa ilmu bukan saja merupakan suatu himpunan pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi. Ilmu telah memberikan metode dan sistem, yang mana tanpa ilmu, semua itu akan merupakan suatu kebutuhan saja. Nilai dari ilmu tidak saja terletak dalam pengetahuan yang dikandungnya, sehingga si penuntut ilmu menjadi seorang yang ilmiah baik dalam keterampilan, dalam pandangan, maupun tindak-tanduknya.
Ilmu menemukan materi-materi alamiah serta memberikan suatu nasionalisasi sebagai hukum alam. Ilmu membentuk kebiasaan serta meningkatkan keterampilan observasi, percobaan (eksperimentasi) klasifikasi, analisa sering membuat generalisasi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir secara logis, yang sering disebut penalaran.
Sehingga dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa, konsep antara ilmu dan berpikir adalah sama. Dalam memecahkan masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas, dan selanjutnya dipilih suatu pemecahan tentatif untuk penyelidikan.
Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir lahir dari suatu rasa sangsi akan sesuatu dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan, yang kernudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas. Masalah ini memerlukan suatu pemecahan dan untuk ini dilakukan penyelidikan terhadap data yang tersedia dengan metode yang tepat. Akhirnya, sebuah kesimpulan tentatif akan diterima, tetapi masih tetap di bawah penyelidikan yang kritis dan terus-menerus untuk mengadakan evaluasi secara terbuka.
Biasanya, manusia normal selalu berpikir dengan situasi permasalahan. Hanya terhadap hal-hal yang lumrah saja, biasanya, reaksi manusia terjadi tanpa berpikir. Ini adalah suatu kebiasaan atau tradisi. Tetapi jika masalah yang dihadapi adalah masalah yang rumit, maka manusia normal akan mencoba memecahkan masalah tersebut menurut langkah-langkah tertentu.



Berpikir demikian dinamakan berpikir secara reflektif (reflective thin­king).
Bagaimanakah kira-kira proses yang terjadi ketika berpikir? Menurut Dewey (1933) proses berpikir dari manusia normal mempunyai urutan berikut:
a.    Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
b.    Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
c.    Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesa, inferensi atau teori.
d.   Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
e.    Menguatkan pembuktian tentang ide-ide tersebut dan menyimpulkannya dengan baik melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.
Menurut Kelly (1930), proses berpikir menuruti langkah-langkah berikut:
1)      Timbul rasa sulit.
2)      Rasa sulit tersebut didefinisikan
3)      Mencari suatu pemecahan sementara.
4)      Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
5)      Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental (percobaan).
6)      Mengadakan penilaian terhadap penemuan-penemuan eksperimental menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga kembali menirnbulkan rasa sulit.
7)      Memberikan semua pandangan ke depan atau gambaran mental tentang situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut secara tepat.
Dari keterangan-keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir secara nalar mempunyai dua buah kriteria penting, yaitu:
1)   ada unsur logis di dalamnya dan
2)   ada unsur analitis di dalamnya.

Ciri pertama dari berpikir adalah adanya unsur logis di dalamnya. Tiap bentuk berpikir mempunyai logikanya tersendiri. Dengan perkataan lain, berpikir secara nalar tidak lain dari berpikir secara logis. Perlu juga dijelaskan bahwa berpikir secara logis mempunyai konotasi jamak dan bukan konotasi tunggal. Karena itu. suatu kegiatan berpikir dapat saja logis sedangkan menurut logika lain. Kecenderungan tersebut dapat menjurus kepada apa yang dinamakan kekacauan penalaran. Hal ini disebabkan karena tidak adanya konsistensi dalam menggunakun pola berpikir.
Ciri kedua dari berpikir adalah adanya unsur analitis di dalam berpikir itu sendiri. Dengan logika yang ada ketika berpikir. maka kegiatan berpikir itu secara sendirinya mempunyai sifat analitis, yang mana sifat ini merupakan konsekuensi dari adanya pola berpikir tertentu. Berpikir secara ilmiah berarti melakukan kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah. Dengan demikian, berpikir tidak terlepas dari daya imaginatif seseorang dalam merangkaikan rambu-rambu pikirannya ke dalam suatu pola tertentu yang dapat timbul sebagai kejeniusan seorang ilmuan.
Rasio atau fakta dapat merupakan sumber utama dari nalar atau sumber dari berpikir. Mereka yang berpendapat bahwa rasiolah yang merupakan sumber utama dari kebenaran dalam berpikir digolongkan dalam mazhab rasionalisme. Di lain pihak terhadap mazhab empirisme. Bagi mazhab empirisme. sumber utama dari kebenaran dalam berpikir adalah fakta yang dapat ditangkap melalui pengalaman manusia.
Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa pada hakekatnya, berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif. Masing-masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau empirisme. Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Misalnya, fakta menunjukkan bahwa ayam perlu makan untuk hidup, anjing perlu makan, bahkan singa juga perlu makan. Maka dari fakta-fakta di atas, secara induktif, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua hewan perlu makan untuk hidup. Di lain pihak, terdapat cara berpikir yang berpangkal dari pernyataan yang bersifat umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Berpikir secara demikian dinamakan berpikir secara deduktif. Berpikir secara deduktif sering menggunakan sillogisma.
B.  Penelitian
Penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris research. Dari itu ada juga ahli yang menerjemahkan research sebagai riset. Research itu sendiri berasal dari kata re yang berarti "kembali" dan to search yang berarti mencari. Dengan demikian arti sebenarnya dari research atau riset adalah "mencari kembali".
Menurut kamus Webster's New International, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu. Menurut ilmuwan Hillway (1956) penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Whitney (I960) menyatakan bahwa di samping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidik harus pula dilakukan secara sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian juga merupakan metode berpikir secara kritis.
Whitney mengutip beberapa definisi tentang penelitian yang diturunkan di bawah ini:
Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan (Parsons, 1946).
Penelitian adalah suatu pencarian fakta menurut metode objektif yang jelas untuk menemukan hubungan antara fakta dan menghasilkan dalil atau hokum (John, 1949).
Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya, Seperti mengubah unsur dari situasi orisinal menjadi suatu keseluruhan yang bersatu padu (Dewey, 1936).
Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan apakah ia cocok dengan hipotesa (Woody, 1927).
Dalam hubungannya dengan definisi penelitian, Gee (1957) memberikan tanggapannya sebagai berikut:
"Dalam berbagai definisi penelitian, terkandung ciri tertentu yang lebih kurang bersamaan. Adanya suatu pencarian, penyelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru, atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru dari pengetahuan yang timbul. Metode yang digunakan bisa saja ilmiah atau tidak, tetapi pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna. Tenaga bisa saja signifikan atau tidak. Dalam masalah aplikasi, maka nampaknya aktivitas lebih banyak tertuju kepada pencarian (search) daripada suatu pencarian kembali (re-search). Jika proses yang terjadi adalah hal yang selalu diperlukan, maka penelitian sebaiknya digunakan untuk menentukan ruang lingkup dari konsep dan bukan kehendak untuk menambah definisi lain terhadap definisi-definisi yang telah begitu banyak."
Dari tanggapan serta definisi-definisi tentang penelitian yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka menurut pernyataan penulis bahwa penelitian adalah suatu penyelidikan yang terorganisasi. Dalam definisi-definisi sebelumnya,  penekanan diletakkan  pada  sistem asuhan sebagai atribut-atribut yang esensial (mutlak).
Penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang telah diterima, ataupun mengubah dalil-dalil dengan adanya aplikasi baru dari dalil-dalil tersebut. Dari itu, penelitian dapat diartikan sebagai pencarian pengetahuan dari pemberi artian yang terus-menerus terhadap sesuatu. Penelitian juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu yang baru.
Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut penelitian ilmiah (scientific research). Dalam penelitian ilmiah ini, selalu ditemukan dua unsur penting, yaitu unsur observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasoning) (Ostle, 1975). Unsur pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu diperoleh melalui kerja mata (pengamatan) dengan mengguna­kan persepsi (sense of perception). Dengan demikian jelas bahwa nalar, adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan dan interelasi terhadap pe­ngetahuan yang timbul, sebegitu jauh ditetapkan sebagai pengetahu­an yang sekarang.

1.      Batasan Ilmu Pengetahuan
Batas-batas penjelajahan ilmu adalah pengalaman manusia dan pengetahuan yang secara empiris telah diuji. ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia? Jawabannya tidak, karena diluar penjelajahan ilmu.
Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Di manakah ilmu berhenti dan meyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologi ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Jawab dari semua pertanyaan itu adalah sangat sederhana: ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu berada di luar jangkauan pengalaman manusia.
Mengapa ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam pengalaman kita? Jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia; yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan suatu kontradiksi yang menghilangkan kesahihan metode ilmiah? Kalau begitu maka sempit sekali batas jelajah ilmu, kata seorang, Cuma sepotong dari sekian permasalahan kehidupan. Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan dalam batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetik.

Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita ‘kapling-kapling’ dalam berbagai displin keilmuan. Kapling ini makin lama makin sempit sesuai dengan perkembangan kuatitatif displin keilmuan. Kalau pada fase permulaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial maka sekarang ini terdapat lebih dari 650 cabang keilmuan.
Dalam pandangan antroposentrisme, Ilmu Pengetahuan sebagai “penunjuk cara dan arah kegiatan manusia” sudah dipromosikan sejak Thales (625-547 SM) dari Miletus. Ilmu Pengetahuan semakin berkembang pesat pada era informasi dewasa ini, baik dalam jumlah maupun jenis, dalam kapasitas maupun kualitas. Makin tersebarnya dunia tekhnologi dan makin mudahnya akses informasi membuat ilmu pengetahuan semakin merata diantara manusia. Tak terelakan bahwa dengan terus berkembangnya dunia tekhnologi itu, sangatlah terasa ilmu pengetahuan kini amat berlimpah khusunya ilmu pengetahuan di dunia kesehatan ataupun kedokteran. Setiap kali ada perkembangan ilmu pengetahuan, kita segera mengetahuinya. Tapi justru dengan perkembangan itu kita semakin terbatas untuk menguasai ilmu pengetahuan.
Ada dua faktor mengapa manusia terbatas atas ilmu pengetahuan yang dimiliknya diantaranya:
1)      Ilmu Pengetahuan itu selalu berkembang baik keluasan maupun kedalamannya.
2)      Manusia itu terbatas dalam penguasaan atas realitas sebagai basis dasar Ilmu Pengetahuan

2.      Fungsi dan Tujuan Ilmu
Menurut Braith Waite (2002), ilmu pengetahuan bertujuan menetapkan hukum-hukum umum yang meliputi perilaku kejadian dan objek yang dikaji oleh ilmu yang bersangkutan, dengan demikian memungkinkan untuk saling mengaitkan pengetahuan tersebut dengan kejadian yang manusia alami dan membuat ramalan anda tentang kejadian yang belum dikenal.
Berdasarkan definisi Braith Waite tersebut, secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tujuan dasar ilmu pengetahuan adalah merumuskan teori atas suatu hal yang menjadi objek ilmu tersebut. Sementara teori ialah seperangkat konstruk (konsep), batasan, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi gejala itu.
Perumusan teori sebagai tujuan dasar ilmu pengetahuan ini menghasilkan dua tujuan turunan dari ilmu pengetahuan, yakni memahami atau menjelaskan objek ilmu pengetahuan yang dipelajari dan membuat prediksi atas apa yang mungkin terjadi pada objek ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Sebagai contoh, sejarah mencatat bahwa setelah Yunani runtuh, muncul era baru, yaitu era kejayaan Islam di tanah Arab. Hal ini berakibat bahwa fungsi dan perkembangan kebudayaan ilmu pengetahuan berpusat dan didominasi oleh umat Islam-Arab. Yang dimaksud dengan Arab di sini meliputi wilayah Timur Tengah, Turki, Afrika utara, daerah perbatasan Cina, dan sebagian dari Spanyol, sesuai dengan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam pada saat itu.
Selain itu, fungsi ilmu disini pada masa sejarah islam dalam berkembangnya ilmu pengetahuan dapat menciptakan para peneliti-peneliti islam diantaranya Khalifah Harun Al-Rashid, khalifah kelima pada masa dinasti Abassiyah, sangat memerhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya, yang dimulai pada sekitar tahun 786, terjadi proses penerjemahan besar-besaran naskah-naskah ilmu pengetahuan bangsa Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Bahkan khalifah berikutnya, yaitu khalifah Al-Ma’mun lebih besar lagi perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa kekhalifahannya di Bagdad didirikan Dewan Kearifan, yang menjadi pusat penelitian dan penerjemahan naskah Yunani.
Selain itu juga dari contoh yang ada, disediakan juga beasiswa bagi para penerjemah atau peneliti dalam ilmu pengetahuan dan umumnya mereka bukan hanya ahli bahasa, tetapi juga merupakan ilmuwan yang ahli dalam matematika. Misalnya Al-Hajjaj menerjemahkan naskah Elements (berisi kumpulan pengetahuan matematika) yang ditulis Euclid. Beberapa penerjemah lainnya misalnya Al-Kindi, Banu Musa bersaudara, dan Hunayn Ibnu Ishaq.
Dari pernyataan yang sudah dijelaskan sebelumnya, penulis dalam hal ini menyatakan bahwa ini merupakan kajian sejarah yang menarik karena pemikiran filsafat Yunani memberikan fungsi yang cukup besar terhadap perubahan dunia. Sejarah intelektual bisa dikaji dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan. Misalnya perkembangan ilmu pengetahuan di Barat. Untuk melihat bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, maka harus dilacak ke belakang, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Islam. Orang-orang Barat pada masa itu banyak mempelajari pemikiran-pemikiran dari para cendikiawan muslim, seperti ilmu kedokteran dari Ibnu Sina, sehingga di Barat nama Ibnu Sina dikenal dengan sebutan Avicena. Kajian tentang perkembangan ilmu pengetahuan di Barat dapat merupakan tema dalam sejarah intelektual.

3.      Fungsi dan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan apa yang ingin dicapai oleh peneliti dalam melakukan penelitiannya. Tujuan dari penelitian tidak sama dengan tujuan peneliti. Sering dijumpai di beberapa tesis atau disertasi bahwa tujuan penelitian adalah sebagai salah satu syarat lulus pendidikan S1 maupun S2. Tujuan tersebut bukan merupakan tujuan penelitian tetapi merupakan tujuan peneliti untuk mendapatkan gelar studinya yang disyaratkan untuk melakukan penelitian tersebut.
Dari beberapa pengertian penelitian yang telah diungkapkan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian tersebut mempunyai beberapa tujuan di antaranya:
1)      Meningkatkan atau mengembangkan pengetahuan (Buckley et al. 2002). Dalam penelitian bisnis, tujuan ini merupakan tujuan yang bersifat jangka panjang karena umumnya tidak terkait secara langsung dengan pemecahan masalah-masalah praktis.
2)      Menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban (sekarang). Dalam penelitian kesehatan, tujuan ini merupakan tujuan yang bersifat jangka pendek. Hasil penelitian lebih menekankan pada usaha pemecahan masalah-masalah praktis yang diperlukan untuk pertimbangan dalam pembuatan keputusan di bidang kesehatan.
3)      Menangkap opportunity atau peluang. Misalnya suatu penelitian dengan isu peningkatan moral karyawan untuk peningkatan kinerja mereka.
4)      Memverifikasi fenomena yang terjadi dengan suatu teori yang telah ada.

5)      Melakukan pengujian terhadap suatu fenomena untuk menemukan suatu teori yang baru.
                                                                             
4.      Etika dalam Penelitian
Ini adalah masa perubahan besar dalam pemahaman tentang etika penelitian sosial terapan. Dari waktu segera setelah Perang Dunia II hingga awal 1990-an, ada konsensus secara bertahap berkembang tentang prinsip-prinsip etika utama yang harus mendasari usaha penelitian. Dua peristiwa penanda menonjol (di antara banyak lainnya) sebagai simbol dari konsensus ini. Kejahatan Perang Nuremberg Pengadilan setelah Perang Dunia II membawa masyarakat untuk melihat cara para ilmuwan Jerman telah menggunakan subyek manusia tawanan sebagai subyek dalam eksperimen sering mengerikan. Pada 1950-an dan 1960-an, Studi Tuskegee Syphilis melibatkan pemotongan pengobatan yang efektif dikenal untuk sifilis dari Afrika-Amerika peserta yang terinfeksi. Acara seperti ini memaksa pengkajian ulang tentang standar etika dan pengembangan secara bertahap dari konsensus bahwa potensi subyek manusia harus dilindungi dari yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam penelitian ilmiah.
Pada tahun 1990-an, dinamika situasi berubah. Pasien kanker dan orang yang acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) berjuang publik dengan pembentukan penelitian medis tentang panjang waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan persetujuan dan penelitian lengkap ke potensi obat untuk penyakit yang fatal. Dalam banyak kasus, itu adalah asumsi etis dari tiga puluh tahun-tahun sebelumnya bahwa dorongan ini mentalitas pergi-lambat. Menurut pemikiran sebelumnya, lebih baik untuk menyangkal risiko pengobatan untuk sementara sampai ada cukup kepercayaan pengobatan, dari resiko melukai orang tak bersalah (seperti di Nuremberg dan kejadian Tuskegee). Baru-baru ini, bagaimanapun, orang terancam penyakit fatal telah mengatakan pembentukan penelitian yang mereka ingin menjadi subjek tes, bahkan di bawah kondisi percobaan risiko cukup besar. Beberapa kelompok pasien vokal dan mengartikulasikan yang ingin menjadi bereksperimen pada datang melawan sistem tinjauan etik yang dirancang untuk melindungi mereka dari menjadi subyek eksperimen.
Meskipun beberapa tahun terakhir dalam etika penelitian telah masih sangat kacau, sebuah konsensus baru mulai berkembang yang melibatkan kelompok stakeholder yang paling terpengaruh oleh masalah berpartisipasi lebih aktif dalam perumusan pedoman untuk penelitian. Meskipun, saat ini, itu tidak sepenuhnya jelas apa konsensus baru akan, hampir pasti bahwa ia tidak akan jatuh di kedua ekstrim: melindungi terhadap eksperimentasi manusia di semua biaya dibandingkan memungkinkan siapa saja yang bersedia menjadi subjek percobaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar